Wednesday, December 30, 2020

Catatanku di Penghujung Tahun 2020

 Sumber gambar : www.canva.com

               Kulangkahkan kaki dengan kemantapan hati berharap atas rida Ilahi. Kali ini aku berkomitmen dengan hati untuk mantap melangkah. Kugali segala lini konsekuensi. Menyadarkanku akan realita bahwa mimpi tak seindah ekspektasi. Ada medan yang perlu kudaki. Oleh karenanya, semua rintangan aku genggam. Kulepaskan satu persatu mengiringi langkah kaki. Rintangan tak membuatku takut karena penakut berproses mengejar mimpi itu pengecut. Belum berjuang sudah kalah dahulu. Dikalahkan oleh interpretasi dan persepsinya sendiri. Ada rintangan sangat wajar karena untuk mewujudkan cita atas dasar cinta kepada Tuhan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Setidaknya ada pembuktian cinta.

               Selama aku menuntut ilmu umum di lembaga pendidikan formal aku tak menemukan kelezatan menuntut ilmu layaknya menuntut ilmu agama. Walaupun belajar ilmu agama tak paham diawal tetapi, akan paham dengan sendirinya dan membuat diri lebih nyaman dengan Tuhan. Aku berusaha mengamalkan sedikit ilmu yang kudapat. Menambah rasa cintaku kepada-Nya.

               Di penghujung tahun ini,  ada sesuatu yang membuka pikir dan hatiku bahwa segalanya harus digantungkan kepada Tuhan baik menuntut ilmu, bekerja, meraih cita hingga bercinta. 

               Aku mulai membebaskan pikir dan hatiku untuk selalu mengingat-Nya, mengharap rida, bimbingan-Nya agar aku tidak tersesat di muka dunia, mengakhiri perjalanan tepat pada waktunya dan selamat sampai tujuan.

               Tidak hanya aku, kurangkul teman, saudara, keluarga bersama-sama meniti langkah keridaan agar ketika ruh telah sampai pada kerongkongan dan waktu tinggal berdetik, Tuhan menurunkan belas kasih-Nya, meninggalkan dunia dengan hati yang tenang, asyik bercumbu dengan-Nya.

               Di penghujung tahun ini,  aku menemukan arti cita dan cinta sejati. Semoga Tuhan memantapkan hatiku. 

               Cita, sejak kecil  citaku menggantung, tak ada makna, tak tentu, tak jelas, bergonta-ganti. Beranjak dewasa, akhir tahun ini atas perjalanan waktu memupuk pengalaman, mendapati orang-orang baru, aku sadar bahwa ketidakjelasan citaku yang dahulu dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan tentang hakikat ilmu dan etika menuntut ilmu. Detik ini aku merajut cita baru dengan kemantapan hati dan berharap petunjuk-Nya.  Sehingga membuatku ringan melangkahkan kaki tuk meraihnya, mewujudkannya, menjadikannya realita.

               Cinta Sejati, dahulu aku fanatik, anti cinta kepada lawan jenis (perihal pasangan hidup), yang kutahu pasangan hidup akan datang sendiri dengan tak perlu mempeributkan dan memaknainya. Setiap ada cinta sesosok pria yang datang, aku menangkisnya, menghindari, bersikap cuek dan bodoh amat (tak peduli) dengan perasaannya. Beranjak dewasa, di akhir tahun ini aku menemukan satu titik pemaknaan tentang cinta. Dimana bahwa cinta sungguh luar biasa, dengan cintaku kepada seseorang yang jauh disana, tak tahu rimbanya, tak ada dimuka, membuatku semakin dekat dengan-Nya, membuatku lebih terbuka menerima orang baru yang bisa aku dapati pelajaran dalam dirinya. Aku juga tidak mudah bawa perasaan dengan orang lain karena dari sini aku selalu memandang pasti ada maksud baik dalam dirinya (berpikir positif) Aku menjaga cinta agar tetap dalam fitrahnya teruntuk seseorang yang dirahasiakan-Nya. Ketika aku mencintai seseorang dalam diam karena kelebihan dan keistimewaanya. Diam-diam aku mencuri kelebihan dan keistimewaannya kemudian kutambahkan kelebihan dan keistimewaan seseorang itu ke dalam lantunan bait-bait doaku agar lengkap sudah kriteria pasangan hidup yang kupintakan pada-Nya. 

               Cita dan cinta sebagai alatku untuk mendapat keridaan-Nya. Cita dan cinta kugantungkan kepada-Nya, menghilangkan kebodohan dan melemahkan nafsu. Maka aku rela atas segala konsekuensinya karena bagiku ketenangan hati mengingat-Nya jauh lebih istimewa, tanpa ada batasan, kapanpun dan dimanapun.

               Di penghujung tahun ini,  kuucapkan terimakasih atas waktu yang menghadirkanku kebahagiaan, kebanggaan dan linangan air mata. Terimakasih kepada waktu telah memberiku kesempatan berbuat baik, kebermanfaatan, menuntut ilmu dan berbenah. Semoga tahun yang akan datang waktu masih memberiku kesempatan kembali. Membuatku lebih mantap menjalani hari, fokus dengan tujuan hidup dan setia dengan hati yang selalu mengingat-Nya.




Happy New Year 2021, 🎊

Semoga segala mimpi terealisasikan,😊

Jangan sampai didahului ajal.πŸ™πŸ˜‡

Sunday, December 27, 2020

(Review) Buku Filosofi Teras by Henry Manampiring

              Halo, aku mau mereview salah satu buku self improvement nih .... Judul bukunya Filosofi Teras by Henry Manampiring. Sudah kenal belum sama buku filosofi teras? Hayoo? kalau belum tahu kamu dianjurkan untuk mengenal lebih dekat dengannyaπŸ˜… Terutama bagi kamu yang sering sekali (sudah menjadi kebiasaan) marah dengan keadaan mungkin karena dimarahi orang tua, atasan atau dikecewain sama seseorang, insecure lihat sosmed yang tampilannya elegan semua, mudah tersinggung perasaan orang, omongan orang yang pedes, tingkah orang yang menyebalkan, khawatir masa depan, cemas keadaan saat ini sehingga membuatmu depresi berkepanjangan hingga stress (waduhh ... move on yuk!)

                       Foto : Doc. Pribadi

Kalau kamu belum mengenal buku ini yuk simak!πŸ€—

               Filosofi teras? Apaan ya? Filosofi teras ialah aliran filsafat yunani romawi kuno, didirikan di kota Athena oleh Zeno, seorang pedagang kaya dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) yang terdampar di Athena karena kapal yang ditumpanginya karam. 
Selama di Athena Zeno belajar filsafat kepada berbagai filsuf kemudian iapun mengajar filosofinya sendiri di sebuah teras (dalam bahasa yunani disebut Stoisisme atau Stoa)

               Kaum Stoa ialah sebutan bagi pengikut filsafat ini. Lambat laun dari Zeno dilanjutkan dan dikembangkan oleh para filsuf seperti Seneca (seorang  Penasihat Kaisar Romawi), Marcus Aurelius (seorang Kaisar Romawi yang dikenal sebagai salah satu Lima Kaisar Yang Baik), Epictetus (seorang budak)

Apa Tujuan Filosofi Teras?

1. Mampu mengendalikan emosi negatif
2. Mengasah kebajikan, ada empat kebajikan utama menurut stoisisme  yaitu kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan menahan diri.

Buku Ini Menjelaskan tentang Apa Sih?

Buku ini terdiri dari 12 bab. Berikut adalah point pentingnya.

1. Hidup Selaras dengan Alam

            Jika menginginkan hidup baik harus selaras dengan alam. Segala peristiwa yang terjadi mengandung sebab akibat. Jadi setiap kita menjumpai kejadian yang tidak mengenakkan sesungguhnya kejadian itu ada sebabnya mengapa kejadian itu bisa terjadi sehingga menimbulkan akibat yang sedang kita lalui. Sebaiknya menggunakan nalar atau akal kita dalam memaknai kejadian yang sedang terjadi terutama kejadian yang mungkin tidak mengenakkan. Tidak perlu menghujat mengapa kejadian tersebut bisa terjadi, marah-marah dan enggak jelas. Akan tetapi, kita berpikir dulu mengapa kejadian itu bisa terjadi karena ada sebab tertentu kejadian itu terjadi hingga menimpa diri kita. Jika kita hidup tidak selaras dengan alam maka kita akan mengekang apa yang telah terjadi atau. Alhasil kita sering marah, enggak enak hati, jengkel dan sebagainya karena kita mengekang. Selaras dengan alam ini seperti takdir yang telah terjadi (hal hal yang menimpa)

2. Dikotomi Kendali

                "Some things are up to us, some things are not up to us," Ada hal-hal yang di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita -Epictetus (hlm.42)

                Hidup manusia dipengaruhi oleh 2 hal yaitu apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita kendalikan atau sesuatu yang dalam kendali dan sesuatu yang diluar kendali. Sesuatu yang bisa kita kendalikan yaitu segala apa yang ada di dalam diri kita seperti potensi, sikap, persepsi, interpretasi, perasaan kita. Sedangkan sesuatu yang diluar kendali kita seperti kekayaan, jabatan, keluarga, kesehatan, prestasi, pekerjaan, omongan orang, perasaan doi😏. Sebaiknya seseorang fokus dengan apa yang bisa dikendalikan karena kebahagiaan yang sejati dapat diraih dengan apa yang bisa kita kendalikan. 

              Misalnya seseorang yang ingin mendapatkan nilai bagus. Apa yang seharusnya dia lakukan? Berusaha dan berdoa 'kan? Berusaha dengan mengumpulkan tugas tepat waktu, mencari muka di depan guru bisa juga dengan menjadi moderator presentasi, aktif bertanya kepada guru. Fokusnya mengelola diri (berusaha) Jika sudah usaha yang bisa dilakukan ialah berdoa. Kalaupun nilainya bagus alhamdulillah. Jika tidak bagus ya tidak mengapa karena dia sudah berusaha dan berdoa. Segala hal terbaik Allah yang memberi. Jadi dia tidak kecewa, tidak marah, ngambek dengan hasil tetapi, dibuat pelajaran dan pengalaman, membuatnya lebih bisa terpacu lagi.  Jika dia hanya fokus pada nilai bagus. Alhasil dia bisa saja dengan jalan mencontek ketika ujian atau mengumpulkan tugas mencontek tugas teman yang pintar atau sudah berusaha dan berdoa tetapi, kecewa dengan nilai yang kurang bagus? Padahal nilai bagus itu diluar kendali kita. Setelah berusaha dan berdoa nilai bagus adalah kehendak Allah. Allah juga memiliki kebebasan apakah kita layak dapat nilai bagus atau enggak? Jadi fokus kita adalah berusaha dan berdoa meminta yang terbaik kepada-Nya karena hanya sesuatu yang bisa kita kendalikan saja yang mampu kita lakukan. Selain berusaha dan berdoa yang bisa kita kendalikan ialah sikap kita menerima keberhasilan atau kegagalan mendapat nilai bagus. Jika berhasil mendapat nilai bagus ya bahagia karena memang itu yang terbaik dari Allah begitu pula dengan gagal mendapat nilai bagus tetap bahagia dengan hasil yang terbaik dari-Nya juga.

3. Hidup Bahagia

               Menurut kaum stoa, bahagia itu tidak terikat oleh apapun. Bahagia murni dari dalam diri kita, bisa kita ciptakan dengan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Sedangkan sesuatu yang diluar kendali kita ialah alat mencapai kebahagiaan. Jadi jangan menggantungkan bahagia dengan sesuatu yang diluar kendali kita (kekayaan, pekerjaan, pendidikan, keluarga, kesehatan, jabatan, omongan orang, perasaan orang) karena sesuatu yang diluar kendali kita bersifat fana (rusak) Jika alat tersebut rusak maka kebahagiaan kita apakah juga rusak (jika menggantungkan bahagia dengan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan)? Pasti. Maka, bahagia itu bebas (kita yang menciptakan, dibawah kendali kita, akal pikiran, persepsi, perasaan kita)

                Jika kita fokus dengan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan alhasil kita menjadi budak sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, terombang ambing, mudah marah, enggak fokus, cemas, takut dan suka bawa perasaan karena sesuatu yang diluar kendali ialah fana (rusak), tidak selamanya ada, hanya sesaat saja.

4. Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi

               Setiap kejadian bersifat datar (tanpa ada kesan negatif atau positif)  yang menjadikannya baik atau buruk ialah persepsi (penerimaan dari kejadian) kita. Apakah kita memiliki persepsi positif atau negatif terhadap kejadian tersebut. Persepsi positif dapat dibangun dengan menggali sebab dan akibat kejadian hingga menimpa kita.
Begitu pula interpretasi (pemberian pandangan terhadap sesuatu) kita terhadap sesuatu (baik yang terjadi, telah terjadi ataupun akan terjadi kita perlu menggali sebab akibat dengan nalar yang menjadikannya terjadi (menerpa kita) sesuai dengan persepsi kita. Bisa positif (semangat, berambisi, percaya diri memandang sesuatu) atau negatif (khawatir, cemas, ragu, rendah diri memandang sesuatu)

             Menurut stoisisme respon berupa emosi negatif yang muncul terhadap kejadian atau peristiwa yang tidak mengenakkan seperti, dimarahin orang tua, dosen, uang hilang datang secara reflek (otomatis) hal ini wajar. Terima saja respon berupa emosi negatif tersebut dari dalam diri kemudian langkah selanjutnya jangan diteruskan mulai pakai nalar kita menerapkan metode S.T.A.R (Stop, Think and Assess = berpikir dan menilai, Respond = tindakan yang tepat)

             Stop, menghentikan tindakan sejenak (tindakan yang membuat marah atau emosi negatif lainnya) untuk menenangkan hati dan pikiran
           Think and Assess, memikirkan dan menilai mana yang memang fakta mana yang hanya interpretasi kita sendiri misalnya, kamu terkena macet, macet itu fakta atau kejadian yang memang kamu hadapi saat ini kemudian kamu marah-marah bilang kalau macet hanya buang buang waktu saja, kemudian menambahkan bahwa kamu akan dimarahi oleh atasan kamu (interpretasi kamu/pemikiran irrasional/belum pasti kejelasannya) coba kamu menilai apakah macet itu dibawah kendali kamu? jelas bukan, macet terjadi begitu saja atau diluar kendali kamu. Apakah macet membuang waktumu? (coba pikirkan)
           Respont, coba disaat macet buat baca berita, buku, menyiapkan hal hal yang diperlukan saat di kantor, mendengar musik, mengobrol bersama anak atau istri dan banyak lagi. Hanya perlu mengubah interpretasi saja dari yang negatif menjadi positif. 

               Memiliki mental tangguh dibutuhkan benteng yang tangguh pula. Benteng yang tangguh tersebut dapat dibangun dalam pikiran kita. Jika pikiran kita bagus (stabil) maka kita akan memiliki mental tangguh (berprinsip, teratur, percaya diri, toleran, tidak mudah baper)

5. Memperkuat Mental

                 Menguatkan mental dengan metode imunisasi mental dengan menginjeksikan interpretasi negatif ke dalam diri nama lainnya premeditation malorum atau memikirkan hal-hal buruk agar nantinya kebal atau bisa mengendalikan kejadian buruk yang memungkinkan terjadi. Metode ini mengajak kita untuk mengendalikan diri sejak awal (sebelum kejadian buruk terjadi) semacam peribahasa lebih baik mencegah daripada mengobati. Bukan berarti kita fokus dengan sesuatu diluar kendali (kejadian buruk) tetapi kita berusaha mencegah respon negatif yang kita keluarkan terhadap sesuatu diluar kendali (kejadian buruk) tersebut. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

                 Sesuatu yang diluar kendali tidak mempengaruhi baik atau buruknya kita (kekayaan, pekerjaan, jabatan, keluarga, kesehatan, omongan orang, perasaan orang) Akan tetapi, sesuatu yang didalam kendali mempengaruhi baik atau buruknya kita (sikap, perkataan, perilaku, perasaan, persepsi, interpretasi, pemikiran kita)

Jangan Dibikin Ribet Hal-Hal Remeh (Gitu Aja Kok Repot by Gus Dur), jika ada kejadian yang tidak mengenakkan apakah perlu menghabiskan energi dan waktu untuk marah-marah? Apakah hasilnya sepadan? Berubah lebih baik sesuai yang kita maukah jika kita marah-marah? Atau kita hanya perlu menghindari, mengganti atau berbicara baik-baik? misalnya, sup yang kita bawa tumpah gara-gara disenggol teman. Apakah dengan jalan marah-marah masalah akan selesai? Apa justru malah menguras energi dan waktu kita? Apakah tidak melukai hatinya juga hati kita?

                Filosofi teras mengajak kita bahwa kita adalah pengguna kebaikan dan rezeki bukan pemilik. Maka segala hal yang hadir atau melekat pada kita adalah pinjaman. Dipergunakan untuk apa pinjaman tersebut? kebaikan atau keburukan. Pada akhirnya pinjaman itu akan diambil oleh pemiliknya dan tidak ada sesuatu apapun yang melekat pada kita selain hasil dari penggunaan pinjaman tersebut (kita rawat atau justru merusak? dipergunakan untuk kebaikan atau keburukan?) Jikalaupun ternyata sebagian kecil pinjaman itu diambil, kita enggak ada rasa menyesal atau kecewa karena sesungguhnya kita tidak punya apa-apa, kita hanya dipinjami (segalanya bukan milik kita)

6. Hidup di antara Orang yang Menyebalkan

                Jika bertemu dengan orang yang merusak (memang salah) maka hal yang pertama ialah memberitahukan kebenarannya kemudian jika dia tidak mau diberitahu atau nyolot sebaiknya kita menahan emosi (mengatur kendali diri karena sikap nyolotnya diluar kendali diri)
Lebih baik meninggalkan orang (teman) yang memang tidak bisa kita kendalikan atau memberi dampak negatif

               Memilih teman bukan berarti tentang perbedaan suku, adat, keluarga, kecerdasan tetapi atas dasar karakter. Jika berkarakter buruk jauhilah karena dapat merusak mental kita.  

               Sejatinya ketika orang lain menghina kita kemudian kita terhina maka yang salah adalah kita. Mengapa terhina? padahal mungkin dia hanya bercanda atau itu hanya sudut pandang dia (menurutnya) Jadi seseorang yang bersikap menyebalkan kepada kita sebenarnya bagaimana saja kita menanggapinya dengan lelucon, biasa saja atau malah marah. Jika kita merasa terhina maka kitalah yang menciptakannya karena menurut filosofi teras orang yang menghina sebenarnya tidak benar-benar menghina mungkin hanya bercanda atau sudut pandangnya.

               Kaum stoa begitu santuy bukan menanggapi orang-orang yang menyebalkan karena orang orang yang menyebalkan tersebut diluar dari kendali kita, langkah yang paling tepat dengan mengkondisikan sesuatu yang dibawah kendali kita

7. Menghadapi Kesusahan dan Musibah

                Hidup kaya atau enggak biasa saja. Sebaiknya kita melatih diri hidup sederhana setiap harinya, percaya diri dengan apa yang ada. Melatih diri untuk susah agar ketika semua hilang (sesuatu yang kita cintai hilang) kita lebih bisa mengatur rasa sabar dan membuat kita lebih bisa menghadapi dan mengikhlaskan.

                Kita menjadi manusia yang tangguh setelah ditimpa musibah, hal ini tergantung seberapa lama kita bertahan ketika menghadapi musibah atau ujian yang menerpa hingga musibah atau ujian itu tidak kuasa lagi mempengaruhi kita.

8. Menerapkan Filosofi Teras dalam Parenting

                Penulis belajar menerapkan filsafat ini dalam dunia parenting. Menjadi orang tua tidak selalu memaksakan anak untuk mengikuti keinginanannya, adakalanya anak dibebaskan sesuai keinginan dan kebutuhannya karena tidak semua dari anak masuk ke dalam sesuatu yang bisa kita kendalikan. Sesuatu yang di dalam kendali kita seperti uang saku, pembayaran sekolah, kebutuhan makanan, pendidikan nilai agama, pemilihan sekolah (mengarahkan), pendidikan budaya dan etika. Kita sebagai orang tua mengarahkan dan mendidik anak bukan memaksakan. 

               Sebaiknya sejak dini anak dilatih untuk bisa mengambil pilihan sendiri dan mendidiknya untuk bisa bertanggungjawab dengan pilihannya tersebut. Misalnya, dengan menanyakan hari ini mau kegiatan belajar yang bagaimana? atau ketika mau pergi keluar rumah untuk liburan ternyata hujan kita tidak perlu marah karena tidak jadi liburan (cuaca diluar kendali kita jadi cukup menyikapi sesuatu yang bisa kita kendalikan yaitu bersikap yang baik) Ajak anak untuk memanfaatkan waktu hingga hujan reda, jika hujan tidak kunjung reda (sampai larut malam hingga tidak jadi liburan) maka manfaatkan waktu yang ada dengan menanyakan kepada anak. Mau main apa kita? atau cuaca lagi tidak baik kita ganti liburan dengan apa?

9. Filosofi Teras dalam Menghadapi Kematian

             Jika kita bisa menyikapi emosi negatif dan selalu berupaya berbuat kebajikan maka hidup kita akan bahagia, tenang dan nyaman. Dimanapun dan kapanpun kematian menjemput kalau kita selalu ada dalam kebaikan (hati dan pikiran tenang) maka kematian tidak perlu dirisaukan karena kematian ialah sesuatu yang diluar kendali kita. Kematian pasti menjemput, yang perlu disikapi ialah sesuatu yang di dalam kendali kita. Waktu
di dunia dihabiskan untuk apa? Bagaimana kita menyikapi atau memaknai kehidupan ini?

                  Setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri bagi pembacanya, tergantung kenyamanan pembaca itu sendiri.

                Semoga review  buku filosofi teras ini membantu teman-teman, menambah keilmuan dan wawasan. Lebih lanjut bisa membaca sendiri versi lengkapnya.

Sekian dan Terimakasih, 
Semoga Bermanfaat😚

Sunday, December 20, 2020

Akhirnya "Filosofi Teras" (Buku Self Improvement) Ada Didekapanku dengan Harga Miring

               Buku bacaanku habis. Waktunya aku membeli buku baru. Membeli buku tidak asal-asalan. Pertama, yang perlu diperhatikan ialah menentukan buku apa yang dibeli sebelum mendatangi toko. Sehingga ketika di toko buku bisa mengerem diri. Kedua, memilih toko buku yang sesuai dengan kantong.

               Setelah menempuh jarak 5,7 km sampai juga di toko buku murah tepatnya di Jl. Brawijaya, Tulungrejo, Pare (Kampung Inggris) Ada dua toko buku murah di Jl. Brawijaya tetapi aku memilih toko buku Abdi Pusat Buku Murah karena lebih banyak macam bukunya. Membuatku nyaman, leluasa layaknya di dunia buku.

               Kuhampiri seorang pemuda berambut lurus panjang sebahu, penjaga toko buku.

              Kutanyakan buku yang hendak kubeli padanya, "Mas, ada buku self improvement, ndak?" 

Masnya kebingunan.

Aku memperjelas kembali, "Buku self improvement perbaikan diri atau motivasi ada?" 

"Ada, Mbak. Sebelah sini. Dilihat dulu nanti saya ambilkan," Masnya menunjuk pada deretan tumpukan buku yang ditata rapi menjulang ke atas mungkin sekitar setengah meter. 

                 Kedua bola mataku menelusuri deretan judul buku yang hanya terbaca bagian sampingnya. Hasilnya nihil tidak ada yang sreg di hati. Kualihkan pandangan ke arah deretan buku sebelah sana. Rupanya terdapat kumpulan buku fiksi (novel, kumcer) dan nonfiksi yang bestseller . Buku-buku tersebut ditata rapi menambah anggun penulisnya terutama novel bestseller seperti karya Tere Liye, Asma Nadia, Andrea Hirata dan Sapardi Djokodarmono. 

                Kedua bola mataku larut menyapu barisan kata yang berjejer rapi. Menelusuri buku buku yang kiranya sreg di hati. Kuambil yang bagus, kubaca blurbnya. Jika memang bagus aku membawanya sambil melihat kembali adakah buku self improvement yang bagus lagi. 

              Kedua kakiku melangkah pelan menuruti kedua bola mata yang mengeja rentetan kata. Sesekali menunduk dan mendongakkan kepala. Ternyata tidak ada yang sreg di hati walaupun novel bestseller. Tetap setia dengan buku yang berjudul Berdamai Dengan diri Sendiri di genggamanku.

                Aku mentargetkan membeli  novel dan satu buku self improvement. Aku mendapati novel karya Ria Ricis berjudul Next. karena aku penasaran aku ambil saja. Aku sudah menggenggam dua buku. Namun, aku masih enggan meninggalkan dunia buku ini. Aku terlalu nyaman untuk meninggalkannya. 

               Masih pagi. Jam menunjukkan pukul sembilan. Sudah ramai saja toko buku ini. Setelah aku, ada dua pemuda yang juga asyik melihat dan bercakap ramah mengenai buku karya Tere Liye. Mereka memakai bahasa formal mungkin salah satu atau keduanya bukan anak daerah sini. Wajar saja karena Kampung Inggris memang tempatnya anak kursus baik bahasa Inggris, Arab atau lainnya. Menurutku Kampung Inggris  ialah kampung pendidikan karena di sini banyak ditemui pemuda pemudi daerah setempat, luar daerah atau bahkan luar negeri yang belajar di sini. Sehingga Kampung Inggris tidak pernah sepi. 


               Keberadaan keduanya membuatku tidak nyaman. Aku beralih tempat dari kumpulan novel menuju kumpulan buku pelajaran (kamus, buku hukum, peribahasa, dan sejenisnya)

"Mbak, mencari buku hukum ya?" Aku dikagetkan suara serak yang tidak asing di telinga. Ternyata pemuda berambut lurus panjang sebahu, mas penjaga toko.

"Buku yang seperti ini Mas,?" tanyaku dengan melihatkan kepadanya buku yang berjudul Berdamai Dengan Diri Sendiri

"Buku perbaikan diri," lanjutku.

"Oh ... di depan, Mbak." Melangkah ke depan. Aku mengikuti langkah kakinya yang menuju teras. 

               Buku yang kucari jenisnya memang di depan. Aku menemukan buku berjudul Seni Berbicara di Segala Kondisi dan Seni Hidup Minimalis. Aku tidak berminat berbicara jadi enggan membaca buku Seni Berbicara. Buku Seni hidup minimalis aku kurang suka karena sudah pernah baca blurbnya di perpustakaan waktu itu. Buku ini membahas tentang perbaikan diri untuk berhemat dalam keadaan bukan perbaikan mental (jiwa atau bagian dalam) 

               Kedua bola mataku mulai menyapu setiap deret judul buku. Semakin ke kanan, ke kanan dan berhenti di sebuah buku tepat berada di ujung rak. Buku yang kucari berjudul Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring. Hatiku senang tak terbayang. Aku mendapatkan dua buku seharga 50K. Gila! Ini gila menurutku. Harga aslinya bisa sampai 200K lebih. 

                      Foto : Doc. Pribadi

               Alhamdulillah ... akhirnya bisa baca buku Filosofi Teras.

              Aku cepat meninggalkan toko agar segera sampai di rumah dan membaca buku yang barusan kubeli. Sungguh, aku tidak sabar. Di jalan tidak berhenti mengucap alhamdulillah karena bisa mendapat buku yang aku inginkan. Bukunya bagus masih dilapisi plastik, original (asli)juga.

              Sesampai di rumah aku buka plastik yang melapisi novel Ria Ricis berjudul Next.. Tertera di cover belakang harga aslinya 119K padahal tidak tebal juga, kenapa bisa mahal aku penasaran. Apa mungkin novel ini kw (bajakan). Rasa penasaranku memuncak aku buka saja plastik yang melapisi buku. 

                     Foto : Doc. Pribadi

              What? Kw (bajakan)? Apa apa an ini? Hah? Kok hitam semua, tulisannya tidak jelas juga (Aku menyesal dan hampir mau nangis)

              Aku tertipu. Aku kira original. Pantas saja dijual murah. Walaupun cover nya bagus tetapi, dalamnya menjebak. Membuat kedua mataku enggan bersahabat untuk mendapatkan ilmu di kedua buku tersebut.

              Kesalahanku ialah menginginkan kualitas bagus luar dalam tapi dengan modal sedikit, yang terjadi ialah walau dapat buku yang aku mau tapi ternyata enggak semangat gara gara tertipu covernya saja isinya buram (malas baca, harus dengan mata melotot dulu baru bisa baca) Padahal kualitas dan modal itu berbanding lurus. Jika ingin dapat kualitas luar dalam bagus ya modalnya harus gede. Sehingga imbas.

               Disini dapat diambil pelajaran bahwa hidup seseorang tergantung kualitasnya. Kualitasnya bagus semakin mahallah ia (tidak disepelekan, dihargai, modal seseorang agar bisa dekat hingga memilikinya juga gede).

               Kenapa aku lebih memilih buku original dari pada kw (bajakan)? Pertama, karena kualitas bukunya (buku original membuatku lebih nyaman membaca, menyenangkan saja) Kedua, menghargai penulis. Buku original bisa sampai di tangan pembaca melalui penerbit yang sudah bekerjasama dengan penulis (ada izin penulis). Proses buku original hingga ke tangan pembaca membutuhkan proses. Si penulis mendapatkan uang dari penjualan buku karyanya. Begitupun penerbit juga mendapatkan uang dari hasil distribusi buku penulis yang diajak kerjasama. Namun, buku kw (bajakan) hanya mem fotocopy buku penulis. Penerbit tidak bekerja sama dengan penulis, tidak izin penulis. Jadi, penulis tidak mendapatkan uang atas karyanya. Karya penulis  tidak dihargai. Hanya menguntungkan pihak penerbit saja. 

               Bisa dikatakan bahwa buku original bukunya legal sedangkan buku kw (bajakan) ilegal.